Bagaimana Cara Menggunakan Hygrometer?

Bagaimana Cara Menggunakan Hygrometer?

 
Cara Menggunakan Hygrometer
Credit: wikipedia(dot)org

Hygrometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur tingkat kelembaban relatif pada suatu area.

Bentuk sederhana hygrometer dikenal sebagai psychrometer dimana alat ini tersusun atas dua buah termometer.

► Bagaimana Fungsi dan Aplikasi Alat Hygrometer


Fungsi hygrometer adalah untuk mengukur kelembaban relatif (RH) di suatu ruang atau area tertentu.

Hygrometer diaplikasikan dalam banyak hal untuk penelitian serta pengukuran kelembaban di suatu daerah.

Pada hygrometer termometer ada dua skala yang ditampilkan, satu menunjukkan kelembaban, yang satunya lagi menunjukkan suhu / temperatur.

Cara menggunakannya adalah dengan menempatkannya pada area yang ingin diukur kelembabannya, lalu tunggu dan baca skala hasil pengukurannya.

Skala kelembaban biasanya ditunjukkan dengan skala % (persen) sedangkan suhu ditunjukkan dengan skala derajat Celsius.

► Prinsip Kerja dan Cara Penggunaan Hygrometer


Prinsip kerja hygrometer adalah dengan menggunakan dua buah termometer.

Termometer pertama digunakan untuk mengukur suhu udara biasa sedangkan termometer kedua untuk mengukur suhu udara jenuh / lembab (pada bagian bawah termometer ditutupi oleh kain basah / kapas).

Termometer pertama yang biasa disebut sebagai termometer bola kering (dry ball) dibiarkan mengering sehingga ia akan mengukur suhu udara yang sebenarnya. Sedangkan pada termometer kedua yang biasa disebut termometer bola basah (wet ball), maka tabung air raksa akan dibasahi sehingga suhu yang diukur adalah suhu jenuh (saturated temperature), yaitu; suhu yang dibutuhkan agar uap air dapat mengembun / terkondensasi.

Termohygrometer sendiri terdiri dari 2 jenis, yaitu Thermohygrometer Analog dan Thermohygrometer Digital.

Berikut adalah cara menggunakan hygrometer analog:

Hygrometer Analog
Credit: pixabay(dot)com

(1) Tempatkan alat termohygrometer atau gantungkan pada area yang akan diukur suhu dan kelembabannya.

(2) Tunggu tiga sampai lima menit.

(3) Amati skala pada termohygrometer analog, baca jarum yang menunjukkan hasil pengukurannya.

Berikut adalah cara menggunakan hygrometer digital:

Hygrometer Digital
Credit: maxpixel(dot)freegreatpicture(dot)com

(1) Tempatkan thermohygrometer di tempat di mana kelembaban dan suhu air akan diukur.

(2) Tunggu tiga sampai lima menit.


(3) Amati skala yang tertera pada layar (persen untuk kelembaban dan derajat Celcius untuk suhu).

Ca Mammae (Kanker Payudara)

Ca Mammae (Kanker Payudara)

Ca Mammae
Credit: wikipedia(dot)org

Di seluruh dunia ca mammae merupakan kanker terbanyak kedua pada perempuan sesudah kanker mulut rahim. Menurut data GLOBOCAN 2008, insidens ca mammae di seluruh dunia adalah 1.385.523 kasus atau 22,9% dari seluruh insidens kanker yang terjadi pada perempuan, sedangkan angka kematian akibat ca mammae di seluruh dunia adalah 458.367 kasus atau 13,7% dari seluruh angka kematian akibat kanker yang terjadi pada perempuan. (GLOBOCAN a, 2008)

Di Indonesia ca mammae merupakan kanker terbanyak pertama pada perempuan. Menurut data GLOBOCAN 2008, insidens ca mammae di Indonesia adalah 39.831 kasus atau 25,5% dari seluruh insidens kanker yang terjadi pada perempuan. Sedangkan angka kematian akibat ca mammae di Indonesia adalah 20.052 kasus atau 19,2% dari seluruh angka kematian akibat kanker yang terjadi pada perempuan. (GLOBOCAN b, 2008)

► Definisi Ca Mammae


Ca mammae ialah suatu proses keganasan yang berasal dari jaringan payudara, dapat berasal dari lapisan sel epitel dalam saluran susu atau lobulus. Kanker yang berasal dari saluran susu dikenal sebagai karsinoma duktal sedangkan yang berasal dari lobulus dikenal sebagai karsinoma lobulus. (American Cancer Society, 2010)

Karsinoma payudara invasif ialah karsinoma dari sel epitel payudara yang telah keluar dan menembus membran basalis di luar lapisan sel. Bentuk yang paling sering dari karsinoma payudara invasif ialah karsinoma duktal invasif. (Manuaba, 2010)

Ca mammae adalah tumor ganas yang menyerang jaringan payudara. Jaringan payudara terdiri dari kelenjar susu, saluran kelenjar, dan jaringan pendukung payudara. Ca mammae menyebabkan sel dan jaringan payudara berubah bentuk menjadi abnormal dan berkembang secara tak terkendali (Mardiana, 2007).

Ca mammae merupakan sekelompok sel abnormal di payudara yang terus tumbuh. Pada akhirnya sel akan membentuk benjolan di payudara. Jika benjolan kanker tidak terkontrol, sel kanker bisa menyebar (metastasis) ke bagian tubuh yang lain. Metastasis dapat terjadi di kelenjar getah bening aksila (ketiak) di atas tulang belikat. Selain itu, sel kanker bisa masuk ke dalam tulang, paru-paru, hati, kulit, dan di bawah kulit (Tapan, 2005).

► Epidemiologi Ca Mammae


Ca mammae dapat terjadi pada perempuan dan laki-laki dengan frekuensi terjadinya ca mammae pada perempuan jauh lebih besar daripada laki-laki. Di Amerika Serikat diduga 192.370 kasus baru ca mammae invasif yang akan terjadi pada perempuan pada tahun 2009 dan 1.910 kasus pada laki-laki. (Swart, et al., 2010)

► Etiologi dan Faktor Predisposisi Ca Mammae


Sampai saat ini penyebab ca mammae belum diketahui dengan pasti, tetapi diduga banyak faktor yang mempunyai pengaruh terhadap terjadinya ca mammae. Beberapa faktor yang diduga meningkatkan risiko terjadinya ca mammae ialah :

Faktor Usia


Angka ca mammae meningkat sejalan dengan peningkatan usia dan meningkat 2 kalinya setiap 10 tahun hingga saat menopause. (American Cancer Society, 2010) Kemudian angka tersebut akan menurun drastis setelah menopause. Dibandingkan dengan kanker paru, insiden ca mammae lebih tinggi pada usia yang lebih muda. (McPherson, et al., 2000)

Faktor Reproduksi


Secara anatomi dan fungsional payudara akan mengalami atrofi dengan bertambahnya usia. Kurang dari 25% ca mammae terjadi pada masa sebelum menopause sehingga diduga terjadinya kanker ini sudah dimulai jauh sebelum terjadinya perubahan klinis. (Devita, et al., 2008)

Faktor Penggunaan Hormon


Penggunaan kombinasi hormon estrogen dan progesteron sebagai terapi penggantian hormon (hormone replacement therapy) dapat meningkatkan risiko terjadinya ca mammae. (Devita, et al., 2008)

Faktor Obesitas


Obesitas berhubungan dengan peningkatan 2 kali lipat risiko ca mammae pada usia pasca menopause. (McPherson, et al., 2000)

Faktor Konsumsi Lemak


Terdapat korelasi tertutup antara konsumsi lemak dengan insidens ca mammae. Sehingga konsumsi lemak diduga sebagai salah satu faktor risiko terjadinya ca mammae. (McPherson, et al., 2000)

Faktor Asupan Alkohol


Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi alkohol dan insidens ca mammae, walaupun demikian hubungan itu tidak konsisten dan mungkin juga disertai faktor diet lainnya. (Devita, et al., 2008)

Faktor Riwayat Tumor Jinak


Perempuan yang mengalami hiperplasia epitelial atipikal berat pada payudaranya mempunyai risiko 4 sampai 5 kali lebih tinggi untuk menderita ca mammae dibandingkan dengan perempuan yang tidak mengalami perubahan proliferasi pada jaringan payudaranya. (McPherson, et al., 2000)

Faktor Riwayat Keluarga dan Genetik


Terdapat peningkatan risiko keganasan pada perempuan yang keluarganya menderita ca mammae. Pada studi genetik ditemukan bahwa ca mammae berhubungan dengan gen tertentu yang diturunkan secara autosomal dominan. (McPherson, et al., 2000)

Terdapat 2 buah gen ca mammae yaitu BRCA1 dan BRCA2 yang terdapat pada lengan panjang kromosom 17 dan 13. Apabila terdapat gen ini maka probabilitas terjadinya ca mammae menjadi lebih besar. (Devita, et al., 2008)

► Manifestasi Klinis Ca Mammae


Manifestasi klinis yang terlihat atau teraba pertama kali berupa benjolan pada payudara yang umumnya tidak nyeri. Benjolan mula-mula kecil dan membesar serta melekat pada kulit atau dinding dada. Dapat menimbulkan perubahan pada ukuran dan bentuk payudara serta puting susu. Kulit atau puting susu dapat mengalami retraksi (tertarik ke dalam), berwarna merah muda atau kecoklatan dan mengkerut sehingga kulit terlihat menyerupai kulit jeruk (peau d'orange).

Proses edema dan nekrosis jaringan akan menyebabkan tumor menembus kulit dan terjadi ulserasi. Ulkus yang terjadi dapat semakin membesar, mudah berdarah dan pada saat ini akan timbul rasa nyeri. Erosi puting susu dan pendarahan pada puting susu sering terjadi. Biasanya disertai pembesaran kelenjar getah bening di ketiak. (Manuaba, 2010)

Akibat gangguan drainase sistem limfatik kulit maka dapat menyebabkan bendungan pada daerah sekitar dan terjadi edema (American Cancer Society, 2010). Ca mammae dapat bermetastasis ke tulang, hati dan paru-paru. Sehingga sering ditemukan keluhan penurunan berat badan, nyeri pada tulang daerah metastasis, batuk, nyeri dada atau keluhan akibat tempat organ metastasis.

► Klasifikasi Ca Mammae


Berikut adalah klasifikasi ca mamme menurut Smeltzer, 2002:

(1) Karsinoma duktal infiltrate, adalah tipe histologis yang paling umum, sekitar 75% dari semua jenis ca mamame. Kanker ini sangat jelas karena kerras saat diraba. Umumnya akan bermetastase ke nodus aksila, prognosisnya lebih parah daripada kanker lainnya.

(2) Karsinoma lobular infiltarte, jarang terjadi yaitu hanya sekitar  5% sampai 10% dari ca mammae. Jenis ini umumnya multisentrik, sehingga bisa terjadi pada beberapa area di salah satu atau kedua payudara.

(3) Karsinoma medular, juga jarang terjadi yaitu sekitar 6% dari ca mammae, ia tumbuh dalam kapsul di saluran kelenjar.

(4) Kanker musinus, sangat jarang terjadi yaitu hanya sekitar 3% dari total kasus ca mammae. Kanker jenis ini tumbuhnya perlahan sehingga kanker ini memiliki prognosis yang lebih baik.

(5) Kanker duktal-tubular, juga sangat  jarang terjadi yaitu hanya sekitar 2% dari kasus ca mammae.

(6)  Karsinoma inflamatori, yang menimbulkan gejala nyeri dan sangat menyakitkan, payudara akan menjadi keras dan membesar, kulit di atas tumor akan tampak merah dan sedikit hitam, sering terjadi edema dan retraksi pada puting susu.

(7) Payudara karsinoma in situ.

► Stadium Ca Mammae


Berikut adalah pembagian stadium pada ca mammae menurut Smeltzer, 2002:

(1) Stadium I
Terdiri dari tumor yang berukuran kurang dari 2 cm, tidak mengenai kelenjar getah bening, dan tidak ada metastasis yang terdeteksi.

(2) Stadium II
Terdiri dari tumor yang ukurannya lebih besar dari 2 cm tapi kurang dari 5 cm, dengan kelenjar getah bening tidak terfiksasi negatif atau positif, dan tidak ada metastasis yang terdeteksi.

(3) Stadium III
Terdiri dari tumor yang ukurannya lebih besar dari 5 cm dengan kelenjar getah bening di daerah klavikula yang positif terfiksasi, namun tidak ada bukti metastasis.

(4) Stadium IV
terdiri dari tumor dalam berbagai ukuran dengan kelenjar getah bening yang normal ataupun kankerosa, dan adanya bukti terjadi metastasis jauh.

► Patofisiologi Ca Mammae


Ca mammae disebabkan adanya interaksi antara lingkungan dan gen yang kurang baik. Sel-sel normal akan membelah dari waktu ke waktu yang kemudian akan dibagi menjadi sel-sel yang tetap dibutuhkan atau yang harus diberhentikan. Mereka akan menempel pada sel-sel lain dan tinggal di jaringan. Sel akan berubah menjadi kanker ketika terjadi mutasi yang menghancurkan kemampuan mereka untuk berhenti membelah, menempel pada sel lain dan akan tetap berada di jaringan.

Ketika sel membagi, DNA yang normal akan melakukan kesalahan dan membuat salinan DNA yang salah. Mutasi yang diketahui dapat menyebabkan kanker antara lain ialah p53, BRCA1 dan BRCA2 yang terjadi pada error correcting mechanism. Mutasi ini dapat terjadi herediter atau didapat setelah lahir. Mutasi yang terjadi dapat tidak terkendali dan mengakibatkan metastasis ke organ jauh. Sel-sel normal akan mengalami proses apoptosis ketika mereka tidak diperlukan lagi.

Pada sel-sel yang mengalami mutasi maka akan kehilangan kemampuan untuk melakukan apoptosis pada saat tidak diperlukan. Pada ca mammae, adanya mutasi tersebut berhubungan dengan paparan estrogen. (American Cancer Society, 2010)

Sebagai tumor yang berkembang, metabolismenya memerlukan oksigen dan substrat yang melebihi kapasitas mekanisme difusi yang normal. Pertumbuhan tumor juga membutuhkan bantuan vaskularisasi yang baik sehingga pertumbuhan tumor dapat melebihi beberapa millimeter. Hal ini bisa terjadi karena adanya stres induced release of growth factor seperti vascular endothelial growth factor (VEGF) yang dapat menginduksi pertumbuhan tumor. (De Paredes, 2007)

Bila pertumbuhan tumor terus berlangsung maka akan terjadi gangguan perkembangan
struktur vaskuler dan terjadi pembentukan pembuluh darah baru yang akan mensuplai volume darah yang cukup besar pada daerah tumor. Pertumbuhan vaskuler pada tumor ini mempunyai derajat maturitas dan fisiologis yang berbeda dengan jaringan normal pada level perfusi dan oksigenasi yang bervariasi. (Fox, et al., 2007)

Struktur vaskuler ini merupakan suatu proses dinamis dengan perubahan regional yang dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan pada daerah setempat. Proses neoangiogenesis ini merupakan suatu proses yang sangat kompleks yang masih sulit untuk dipahami. Saat ini, proses ini secara mendasar dapat dinilai dengan menggunakan pemeriksaan histopatologis. Dan MRI merupakan suatu teknik pemeriksaan yang memberikan hasil yang cukup baik untuk mengetahui proses angiogenesis tumor. (Leach, 2001)

► Pemeriksaan Penunjang Ca Mammae


Deteksi dini dilakukan untuk mencegah perkembangan ca mammae. Tumor payudara yang lebih kecil lebih mudah diobati bila terdeteksi lebih dini dan prognosisnya lebih baik. Pemeriksaan untuk ca mammae meliputi: (Swart, 2011)

(1) Periksa payudara sendiri (sadari)


Pemeriksaan payudara sendiri dan pemeriksaan payudara klinis merupakan tindakan non invasif untuk pemeriksaan payudara. Dapat dikatakan ditemukan tanda abnormal jika terjadi yaitu adanya benjolan atau penebalan pada jaringan payudara, serta nyeri pada salah satu payudara atau pada ketiak. Satu payudara lebih besar atau lebih rendah, puting susu tertarik ke dalam atau berubah posisi, kulit mengkerut, bengkak di bawah ketiak atau tulang selangka, ruam di kulit. Jika ditemukan tanda-tanda di atas, maka harus dilakukan tiga jenis pemeriksaan yaitu, pemeriksaan klinis payudara, mamografi atau ultrasonografi, dan biopsi.

(2) Mamografi


Mamografi dilakukan menggunakan x-ray dosis rendah untuk melihat gambaran detil dari payudara. Mamografi bisa digunakan untuk mendeteksi dini ca mammae pada tahap awal, pemeriksaan ini bisa menunjukkan adanya lesi yang tidak bisa ditemukan dengan pemeriksaan payudara klinis. Ada dua jenis pemeriksaan mammografi, yaitu sebagai skrining dan diagnosa. Skrining payudara dilakukan pada wanita yang mengalami benjolan pada payudara, ataupun ditemukan pengeluaran abnormal dari puting susu. Wanita dengan implan payudara atau riwayat ca mammae melakukan pemeriksaan mamografi sebagai tindakan diagnostik.

(3) MRI


MRI digunakan untuk beberapa kasus, yaitu: kasus ca mammae dengan hasil mamografi yang negatif, untuk mengetahui ukuran tumor pada kanker lobular invasif, terdapat kesenjangan antara penilaian awal terhadap benjolan di payudara.

(4) Pemindai Positron Emission Tomography


Pemindaian PET digunakan untuk pencegahan metastasis kelenjar getah bening nonaxilary untuk ca mammae tingkat lanjut dan ca mammae inflamatori sebelum memulai terapi non-adjuvant.

(5) Tes Genetik


Penyebab utama pewarisan ca mammae adalah mutasi gen BRCA1 atau BRCA2, yang merupakan faktor risiko untuk perkembangan penyakit lainnya. Tes ini sudah dilakukan di Amerika Serikat.

(6) Pemeriksaan Histpatologis


Pemeriksaan histopatologis merupakan pemeriksaan standar untuk menentukan jenis dan stadium ca mammae. Bahan pemeriksaan dapat diperoleh dengan cara biopsi. Biopsi dapat dilakukan dengan cara aspirasi jarum halus, core cutting needle biopsy atau biopsi eksisi. (Devita, et al., 2008)

Seluruh ca mammae kecuali tipe medulare harus dibuat derajat histologisnya. Sistem derajat histologi yang direkomendasikan ialah menurut “The Nottingham combined histologi grade” (Elston-Ellis yang merupakan modifikasi dari Bloom-Richardson).

Derajat tumor ditentukan berdasarkan gambaran morfologik yang terdiri atas pembentukan tubulus, pleomorfik inti dan hitung mitosis, dinyatakan dalam bentuk nilai 1 (baik) sampai 3 (tidak baik) untuk masing-masing gambaran. Disebut derajat 1 (rendah) bila skor total 3-5, derajat 2 (sedang) bila skor total 6-7 dan derajat 3 (tinggi) bila skor total 8-9. (Bland & Copeland, 2004)

► Penatalaksanaan Ca Mammae


Beberapa modalitas terapi yang dapat dilakukan ialah:

(1) Operasi


Ada beberapa jenis operasi yaitu:

Breast Conserving Surgery (BCS)

BCS ialah eksisi massa tumor yang dilanjutkan dengan diseksi aksila. Eksisi massa tumor dilakukan sampai batas sayatan bebas tumor yang dibuktikan dengan pemeriksaan patologi saat operasi berlangsung.. Operasi ini hampir selalu diikuti dengan pemberian terapi radiasi. Bila diperlukan kemoterapi ajuvan maka radiasi biasanya dilakukan setelah kemoterapi diberikan lengkap. (Manuaba, 2010)

Terapi radiasi sebagai bagian dari BCS pada ca mammae invasif kadang-kadang
tidak dilakukan pada keadaan sebagai berikut: (Devita, et al., 2008)

- usia 70 tahun atau lebih
- tumor berukuran 2 cm atau kurang
- tidak terdapat keterlibatan kelenjar getah bening
- pasien yang menerima pengobatan dengan terapi hormon

Complete Masectomy

Mastektomi total atau komplit ialah pengangkatan seluruh jaringan payudara mulai dari klavikula sampai rektus abdominis dan antara tepi sternum dengan latissimus dorsi. Juga dilakukan pengangkatan nipple-areolar complex dan fascia otot pektoralis mayor. (Devita, et al., 2008)

Modified Radical Masectomy

Mastektomi radikal modifikasi, ialah operasi pengangkatan seluruh jaringan payudara
dan benjolan kelenjar getah bening di sekitar ketiak. (Devita, et al., 2008)

(2) Terapi Radiasi atau Penyinaran


Ialah proses penyinaran pada daerah yang terkena kanker dengan menggunakan sinar X dan sinar gamma. Tujuan tindakan ini adalah untuk membunuh sel kanker yang masih tersisa di payudara setelah tindakan operasi. Terapi radiasi dapat bersifat neoajuvan, ajuvan atau paliatif. (Manuaba, 2010)

(3) Kemoterapi


Ialah proses pemberian obat-obatan anti kanker yang bertujuan untuk membunuh sel kanker. Kemoterapi yang diberikan harus dalam bentuk kombinasi. Kombinasi yang telah menjadi standar ialah CMF (Cyclophospamide, Methotrexate dan 5 Fluoro Uracil), CAF (Cyclophospamide, Adriamycin dan 5 Fluoro Uracil), CEF (Cyclophospamide, Epirubicin dan 5 Fluoro Uracil), T-A (Taxanes/Paclitaxel/Doxetacel – Adriamycin), Gapecitabine dan beberapa kemoterapi lain seperti Navelbine, Gamcitabine (+ Cisplatinum) yang digunakan sebagai kemoterapi lapis ke 3. (Manuaba, 2010)

Pemberian kemoterapi dapat dilakukan dalam bentuk neoajuvan, ajuvan (sesudah tindakan pembedahan), therapeutic chemotherapy (yang diberikan pada ca mammae metastasis), paliatif (sebagai usaha untuk memperbaiki kualitas hidup) atau metronomic chemotherapy (Cyclophosphamide) sebagai anti abiogenesis. (Devita, et al., 2008)

Kemoterapi neoajuvan ialah pemberian modalitas kemoterapi sebelum dilakukan tindakan pembedahan dengan tujuan untuk mengeradikasi mikrometastasis yang diasumsikan telah terjadi pada saat diagnosis karsinoma payudara ditegakkan.

Kemoterapi neoajuvan merupakan standar pengobatan untuk pasien ca mammae lanjut.(Devita, et al., 2008) Pemberian kemoterapi neoajuvan dapat diberikan untuk menyusutkan ukuran tumor sehingga memudahkan untuk dilakukan tindakan pembedahan seperti breast conserving surgery (BCS). (Arlinghaus, et al., 2010)

Kemoterapi neoajuvan biasanya diberikan dalam 3 siklus dan dalam bentuk kombinasi. Beberapa kombinasi obat yang dapat diberikan sebagai kemoterapi neoajuvan ialah AC (Adriamycin / Doxorubicin dengan Cyclophosphamida), CAF atau CEF dan T-A (Taxanes-Doxorubicin). (Manuaba, 2010)

(4) Terapi Hormonal


Terdiri atas ablative dengan melakukan bilateral ovarektomi, additive dengan Tamoxifen dan optional dengan arometase inhibitor atau GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone)

Molecular Targeting Therapy

Ditujukan terutama jika ada indikasi yaitu adanya ekspresi protein tertentu pada jaringan kanker, seperti ekspresi HER2 / Neu protein diberikan Trastuzumab atau ekspresi VEGF diberikan Bevacizumab. Pada umumnya molecular targeting therapy diberikan bersama kemoterapi. (Manuaba, 2010)

Tentang Terapi

Penatalaksanaan ca mammae tergantung pada stadium penyakit tersebut. Pada ducta lcarcinoma insitu (DCIS) dilakukan mastektomi simpel atau BCS. Terapi ajuvan diberikan kepada pasien dengan risiko tinggi terjadi rekurensi, antara lain usia muda (≤ 35 tahun), reseptor hormon negatif, HER2 overekspresi dan metastasis kelenjar getah bening aksila.

Terapi radiasi diberikan pada pasien dengan BCS, kecuali dengan pertimbangan khusus antara lain diameter tumor < 1 cm, batas pembedahan yang cukup dan derajat tumor yang rendah. Sedangkan terapi hormonal diberikan pada pasien dengan ER dan/atau PR positif, tanpa riwayat gangguan tromboembolisme. (Manuaba, 2010)

Pada lobular carcinoma insitu (LCIS) dilakukan eksisi tumor dan evaluasi terapi yang baik. Terapi ajuvan yang diberikan ialah tamoxifen, sedangkan pemberian terapi radiasi masih belum memberikan hasil yang jelas. (Manuaba, 2010)

Pada ca mammae invasif stadium dini (T1,T2,N0,N1) dilakukan BCS atau mastektomi radikal modifikasi. BCS biasanya dilakukan pada tumor ukuran < 3 cm. Sedangkan mastektomi radikal modifikasi dilakukan bila tumor besar atau adanya faktor risiko tinggi untuk rekurensi seperti usia muda. Terapi ajuvan diberikan pada pasien BCS. (Manuaba, 2010)

Pada karsinoma payudara lanjut lokal dilakukan terapi neoajuvan dan mastektomi radikal modifikasi, mastektomi radikal standar atau BCS. Beberapa kemoterapi neoajuvan yang diberikan ialah AC, CAF/CEF, T-A. Sedangkan terapi hormonal hanya diberikan pada ER/PR positif dan yang diberikan ialah golongan aromatase inhibitor (Manuaba, 2010)

Pada karsinoma payudara inflamatori dilakukan kemoterapi neoajuvan, pembedahan atau terapi radiasi dan kemoterapi ajuvan. (Manuaba, 2010)

Pada karsinoma payudara metastasis dilakukan pemberian terapi sistemik baik kemoterapi maupun terapi hormonal, sedangkan terapi bedah bukan merupakan pilihan lagi. (Manuaba, 2010)

Kemoterapi merupakan pilihan utama pada visceral metastasis, aggressive breast cancer, dan usia muda.

Terapi hormonal diberikan pada karsinoma payudara yang lebih indolen, ER/PR positif atau metastasis tulang. Peran bedah hanya bersifat sebagai tindakan ajuvan atau paliatif untuk mengambil sisa tumor atau menghentikan perdarahan. (Manuaba, 2010)

► Prognosis Ca Mammae


Secara umum prognosis ca mammae tergantung pada stadium penyakit termasuk usia,ukuran tumor, lokasi, penyebaran ke tempat lain dan tumor yang residif. Semakin tinggi stadium saat didiagnosis maka prognosis semakin buruk. Prognosis dapat dilihat berdasarkan tingkat ketahanan hidup 5 tahun pasien yang menderita ca mammae yaitu berdasarkan persentase pasien yang dapat hidup minimal 5 tahun setelah didiagnosis ca mammae.

Tabel di bawah ini mencerminkan tingkat ketahanan hidup 5 tahun pasien ca mammae yang diperoleh dari American Cancer Society yang didasari oleh pasien-pasien yang didiagnosis ca mammae. (American Cancer Society, 2010)



Perempuan muda dengan ca mammae cenderung memiliki prognosis yang lebih buruk dibandingkan perempuan pasca menopause. Hal ini disebabkan beberapa faktor seperti reseptor estrogen dan progesteron yang masih aktif yang memiliki peranan penting pada ca mammae.

Untuk referensi lengkapnya, silakan baca pesan di kotak biru di bawah ini!